20 Oktober 2018 – Dalam membangun kampung ini untuk para korban gempa dan likuifaksi, Jaringan Gusdurian bekerjasama dengan Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogjakarta, Laskar Hijau, Kappala, Pramuka Peduli, Detasemen 87 dan Komnas HAM Sulawesi Tengah.

Pascagempa dan tsunami meluluh lantakkan Palu, Sigi dan Donggala, Jaringan Gusdurian menggagas ‘Kampung Gusdurian’ di Desa Sidera, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.

Lokasi Kampung Gusdurian sekitar 50 meter di sisi utara titik likuifaksi yang menyeret perkampungan di Jono Oge hingga 500 – 1000 meter.

Kampung Gusdurian nantinya akan menjadi hunian sementara bagi masyarakat yang rumahnya hancur dan terkubur dalam lumpur likuifaksi hingga memiliki hunian tetap.

Untuk tahap awal, akan disediakan 40 unit hunian sementara, dan akan bertambah lagi sesuai kebutuhan. Selain itu, di ‘Kampung Gusdurian’ ini, juga dibangun satu mushollah, satu rumah baca dan tempat bermain anak.

“Kita juga membangun fasilitas sanitasi dan air bersih, jaringan listrik, serta fasilitas umum lainnya,” ujar koordinator kemanusiaan Gusdurian A’ak Abdullah Al Kudus via whatsapp kepada TribunSulbar.com, Sabtu (20/10/2018).

“Pengerjaannya dilakukan secara gotong royong bersama Marinir yang bertugas mengamankan desa, serta warga setempat yang memiliki semangat untuk bangkit dan bergerak,”ujarnya.

Bangunan hunian sementara ini mengadopsi rumah adat Sulawesi Tengah, yakni model rumah panggung dengan bahan utama kayu yang didapatkan dari desa setempat.

Uniknya, setiap rumah diberi sentuhan cat warna warni dan mural yang kreatif. Menurut A’ak, model hunian sementara ini selain kokoh, juga tahan gempa, dan dianggap aman dari banjir bila hujan.

“Kami ingin memastikan para pengungsi yang tinggal di kampung ini nantinya merasa aman, nyaman dan guyub rukun,”ucapnya.

A’ak berharap, kelak jika warga sudah memiliki hunian tetap, hunian sementar ini masih bisa difungsikan sebagai lumbung, atau gazebo, atau apapun.

“Yang pasti tidak akan terbuang percuma,”harapnya.

A’ak juga menegaskan, siapapun bisa mendapatkan bantuan hunian sementara ini tidak peduli apapun suku dan agamanya. Yang penting adalah korban dan dalam kondisi rentan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.