KAPPALA meyakini bahwa harimau jawa belum punah karena beberapa bukti seperti ditemukan cakaran, bulu dan kotoran satwa langka tersebut di TNMB.

“Saya masih menyimpan kotoran yang diduga kuat feses harimau jawa pada penelitian tahun 2004 karena terdapat bulu yang menempel di kotoran itu sesuai dengan medula harimau jawa,” papar Wahyu Giri, KAPPALA.

KAPPALA menegaskan tidak terekamnya sosok harimau jawa dalam kamera trap tahun 2006 lalu bukan menjadi sebuah kesimpulan bahwa harimau jawa telah punah. “Terlalu dini menyimpulkan bahwa harimau jawa telah punah. Perlu penelitian yang serius dan peralatan yang memadai untuk mengungkap keberadaan satwa langka yang terancam punah itu,” ucap Giri.

Kurangnya pengetahuan dan tindakan dalam menjaga kawasan konservasi oleh pecinta alam sangat berdampak pada kawasan lindung. Integrasi yang lemah antara kelompok tersebut dengan masyarakat, serta petugas konservasi juga turut menambah daftar penyebab masalah lingkungan ini.

Merespon hal tersebut, dua belas kelompok pecinta alam mencetuskan program Ekspedisi Pecinta Alam Indonesia, Menjemput Harimau Jawa di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dilaksanakan pada 24 Juni sampai 8 Juli 2018. Melalui kegiatan ini diharapkan peran pecinta alam dalam pengelolaan kawasan konservasi sebagai habitat berbagai satwa, plasma nutfah, dan sumber penghidupan masyarakat meningkat.

“Dewasa ini peran pecinta alam dalam menjaga perihal konservasi sangat minim,” tutur Widi Widayat koordinator pelaksana dari ASTACALA Telkom University kepada ARENA Rabu, (19/07).

Selain itu, ekspedisi ini juga memiliki tujuan untuk membuktikan keberadaan harimau jawa (Panthera Tigris Sondaica) pada kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu habitat hutan yang masih terjaga di pulau Jawa.

Merujuk pada data yang dihimpun oleh para pecinta alam ini, Internasional Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) pada tahun 1973 menyatakan bahwa harimau jawa (Panthera Tigris Sondaica) telah punah. Pernyataan tersebut didukung oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 1996. Tidak sedikit praktisi maupun akademisi ikut mengamini pernyataan tersebut. Ditambah tidak pernah ada foto harimau jawa setelah foto terakhir pada tahun 1938.

Ian Septiana Hanif peserta ekspedisi dari Mahasiswa Pecinta Alam UIN Sunan Kalijaga (Mapalaska) Yogyakarta mengungkapkan hal tersebut penting. Sebab, pembuktian keberadaan harimau jawa akan mempengaruhi kelangsungan ekosistem. Ketika harimau jawa dinyatakan punah, pembukaan lahan menjadi leluasa karena memiliki argumen bahwa lokasi tersebut bukan habitat satwa dilindungi.

“Pembukaan lahan juga bisa makin massif karena dianggap nggak ada binatang dilindungi yang menempati,” jelasnya.

Beberapa Petunjuk

Ekspedisi mencari harimau jawa tidak berarti bertemu secara langsung, melainkan bisa dilakukan dengan penemuan beberapa tanda yang menunjukkan keberadaannya. “Salah satunya jejak harimau, kita mencari jejak harimau, mencari cakarannya, bisa juga dengan aumannya,” tutur Ian.

Menurut Ian, dalam ekspedisi ini tim menemukan beberapa petunjuk seperti mendengar auman, cakar, jejak, fases, bahkan ada yang melihat matanya saat malam hari. Namun, temuan tersebut belum bisa diekspose lebih jauh karena harus melewati tahap penelitian terlebih dahulu. “Jika kita memperkirakan besar kemungkinan itu harimau (jawa). Tapi harus diteliti dulu,” kata Ian.

Ekspedisi ini diikuti oleh lima puluh peserta dari berbagai kelompok pecinta alam di Indonesia. Mereka dibagi menjadi tujuh kelompok. Setiap kelompoknya didampingi dua orang RPU (Rhino Protection Unit). Adapun perwakilan dari Mapalaska antara lain Ade Fauzan Zulfikar mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam, Ian Septiana Hanif mahasiswa Pendidikan Kimia, dan Fauzi Yuliarahma mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Selain Mapalaska, kelompok pecinta alam yang terlibat dalam ekspedisi ini antara lain Yayasan ASTACALA, KAPPALA Indonesia, Peduli Karnivor Jawa (KPJ), PMPA – ASTACALA Telkom University Bandung, Perhimpunan SANGGABUANA, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan KPLH RANITA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Reporter: Astri Marta
Editor: Syakirun Ni’am

https://lpmarena.com/2018/07/19/bukti-keberadaan-harimau-jawa-kendalikan-pembukaan-lahan/

Leave a Reply

Your email address will not be published.